Photobucket Photobucket

Rabu, 22 Juni 2011

Waspada...! Air Galon Palsu

 Liputan6.com, Jakarta: Air minum adalah kebutuhan pokok yang tak bisa ditawar-tawar. Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang, setiap hari dibutuhkan dua sampai tiga liter air minum. Maka, pemandangan jamak akan terlihat setiap hari, semisal minum di tengah perjalanan, usai berolahraga, dan minum ditengah aktivitas lainnya.

Karena itu pula, berbagai cara dilakukan orang untuk memenuhi kebutuhannya akan air minum. Survei yang dilakukan Tim Sigi di kawasan Yogyakarta, misalnya, memperlihatkan buruknya kualitas air tanah di sejumlah wilayah Bantul yang mau tak mau memaksa sebagian warga beralih pada air kemasan untuk minum. Tak heran, air minum dalam kemasan laris manis dan jadi primadona.

Namun, hal ini pula yang kemudian harus jadi perhatian. Hati-hati, makin laku suatu produk maka makin besar risiko pemalsuan oleh orang-orang tak bertangung jawab. Lihat saja kasus pemalsuan air isi ulang yang terjadi disebuah rumah kontrakan di Dusun Tangkil Srihandono Pundong, Bantul.

Kasus ini terbongkar dari kecurigaan warga terhadap aktivitas penghuni yang sering membawa galon kosong saat sore hari dan esoknya galon-galon itu sudah berisi air yang siap dipasarkan. Ternyata, air isi ulang itu berasal dari sumur. Praktik culas ini hampir dua bulan dijalankan pelaku.

Untuk membuktikan fakta di lapangan seputar pemalsuan air kemasan ini, Tim Sigi menelusuri warung-warung yang pernah ditawarkan pelaku. Awalnya tak ada jejak pemalsuan air isi ulang. Tak menyerah, kami mengendus lebih jauh. Fakta ini kami dekatkan dengan lokasi pembuatan air galon palsu dimana ada keterangan janggal yang diberikan pemuka warga berkaitan kegiatan dalam rumah kontrakan pelaku yang digerebek polisi.

Berbekal informasi dari sejumlah warung yang sempat memperjualbelikan air isi ulang rekayasa, yaitu air mentah yang dicampur air matang ini dan juga keterangan dari sejumlah warga, Tim Sigi bergerak cukup jauh meninggalkan lokasi Pundong. Tim mendatangi sebuah rumah yang dicurigai masih memproduksi air galon palsu. Bukti-bukti mencurigakan ditemukan di sini.

Sayangnya, Tim Sigi kesulitan mencari bukti yang lebih kuat, semisal produksi air isi ulang palsu yang tengah berlangsung. Dugaan kuat, karena tengah menjadi sorotan setelah penggerebekan salah satu lokasi pengoplos air galon palsu, sang pelaku "tiarap" dulu.

Namun, upaya menggali kebenaran seputar air galon palsu terus dilakukan. Lihat dan jangan terkecoh, galon-galon air minum ini sebenarnya palsu. Kemasan air isi ulang ini disita polisi menyusul terbongkarnya praktik ilegal air isi ulang oplosan yang dikerjakan sindikat yang dikomandani oleh Joni.

Joni dan dua sekondannya dibekuk polisi saat memproduksi air isi ulang dari air sumur di rumah kontrakannya di Dusun Tangkil Srihardono Pundong, Yogyakarta. Agar meyakinkan konsumen, galon, merek, dan tutup segelnya tetap memakai label produk resmi yang asli. Tak heran sepintas air tampak bersih dan layak konsumsi. Untuk menghindari kecurigaan, tersangka menjualnya ke warung di wilayah pinggiran kota, seperti Jetis, Sleman, dan Kulon Progo.

Angka galon isi ulang yang telah mereka pasarkan jumlahnya cukup mencengangkan. Sedikitnya sekitar 1.000 galon air isi ulang telah dibuang ke pasaran dalam waktu singkat dua bulan beroperasi. Sejauh ini produk air kemasan yang paling diincar para pelaku adalah produk merek terkenal. Alasannya, gampang menjualnya ketimbang memalsukan produk lain.

Jaringan pemalsu melebar tak hanya di Bantul. Telunjuk informan Sigi pun mengarah ke Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Di sini kami dipertemukan dengan seorang pemalsu air minum kemasan yang masih beroperasi. Bedanya, air yang dipalsukan didapat dari depo air isi ulang miliknya, namun menggunakan galon label dan penutup yang seolah-olah asli galon produk air kemasan terkemuka.

Hasil uji laboratorium menjelaskan dengan gamblang tentang kandungan air minum kemasan maupun isi ulang yang tak melalui proses sterilisasi sesuai standar. Untuk mengetahui kandungan air produksi Joni dan rekannya yang menggunakan air sumur dioplos air matang, Tim Sigi membawa sampel air itu ke laboratorium Dinas Kesehatan Bantul. Pengujian menggunakan Standar Nasional Indonesia dengan parameter unsur bakteriologis dan kimia.

Langkah pertama, analis laboratorium mengambil sampel dari sumber air sumur yang diduga tidak layak konsumsi menggunakan botol yang sudah disterilkan supaya tidak terkontaminasi bakteri lainnya. Bakteri kemudian dimasukkan ke dalam act incubator yang berfungsi sebagai pemanas dan didiamkan dalam waktu tertentu. Suhu pun harus terjaga benar 36 derajat Celcius. Hasilnya, uji air minum kemasan produksi Joni sangat tidak sehat untuk dikonsumsi.

Untuk mengetahui air ini mengandung bakteri, sampel yang telah diendapkan 48 jam harus diencerkan melalui proses pemanasan untuk kemudian dipindahkan ke tabung reaksi yang tumbuh bakteri. Tahap berikutnya dilakukan uji untuk mengetahui ada tidaknya bakteri ekoli dan koli tinja dalam kandungan air.

Sampel yang telah diuji dibekukan sebelum disimpan di inkubator dalam suhu 37 derajat Celcius untuk uji bakteri ekoli dan 44 derajat Celcius untuk bakteri koli tinjanya selama 48 jam. Seperti sudah diduga sebelumnya, air kemasan produksi Joni positif mengandung bakteri ekoli.

Meski sudah banyak kasus yang terungkap, Asosiasi Pengusaha Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) maupun Yayasan Lembaga Konsumen Yoyakarta mengeluhkan rendahnya sanksi hukum bagi para pelaku. Yayasan Lembaga Konsumen Yogyakarta hanya bisa mengeluarkan rekomendasi seputar antisipasi air kemasan palsu yang beredar di Tanah Air.

Kasus-kasus pemalsuan air kemasan maupun penipuan konsumen seputar air isi ulang yang sempat kami investigasi menjadi bukti bahwa perlindungan konsumen belum bisa dipertanggungjawabkan di negeri ini. Alangkah baiknya jika urusan air minum yang memenuhi harkat orang banyak ini segera dicari jalan keluarnya oleh pemerintah. Karena kami, masyarakat Indonesia butuh air minum yang bersih dan sehat. Simak selengkapnya investigasi Tim Sigi dalam tayangan video program Sigi edisi Sabtu, 14 Mei 2011. Selamat menyaksikan.(ADO)

http://berita.liputan6.com/read/334358/waspada_air_galon_palsu

Kenali Tahu Berbahaya!

 Liputan6.com, Magelang: Dari berbagai jenis makanan rakyat, hingga kini tahu merupakan salah satu penganan berbahan baku kedelai yang banyak digemari orang. Terlebih, jika tahu sudah diolah menjadi hidangan yang mengundang selera perut seperti bakwan malang, tahu gimbal hingga siomay.

Mayoritas masyarakat menyukai tahu lantaran di samping rasanya yang lezat, makanan berbahan baku kedelai itu dipercaya memiliki kandungan protein nabati terbaik yang tentunya bermanfaat bagi kesehatan. Termasuk, mencegah berbagai macam penyakit kanker hingga jantung. Selain itu, harganya yang cukup murah bisa dijangkau masyarakat bawah sekalipun.

Pasokan tahu baik mentah maupun matang digelontor para pedagang dan perajin tahu ke sejumlah pasar tradisional. Para penggemar pun tak perlu khawatir kehabisan karena suplainya yang cukup banyak. Beberapa jenis tahu salah satunya bisa dilihat dari warna dan karakteristik lainnya.

Mulai dari tahu putih, tahu berwarna kuning yang saat pembuatannya memakai sejenis zat warna hingga tahu coklat yang telah digoreng. Jenis lainnya yang unik adalah tahu kacamata yang berasal yang sebagian besarnya dipasok dari Kota Magelang, Jawa Tengah.

Tahu sudah dikenal luas dari Sabang sampai Merauke yang disajikan menjadi beragam jenis makanan mulai dari pedagang kaki lima (PKL) hingga warung makan.

Bagi para penggemar berat, proses pembuatan makanan berbasis kedelai itu sangat menarik untuk diuraikan. Pertama, bahan dasar kedelai terlebih dahulu dicuci bersih. Kemudian, kedelai itu digiling menjadi halus agar sari kacang kedelai bisa digunakan menjadi potongan tahu. Selanjutnya, sari kacang kedelai itu dimasukkan ke dalam tungku khusus.

Udara panas pun menguar dari tungku tempat sari kedelai dimasak. Sari kedelai yang matang selanjutnya disaring untuk dijadikan tahu. Hasilnya, cetakan tahu siap dipotong menjadi beberapa potongan kecil. Selanjutnya, tahu yang sudah jadi itu pun siap didistribusikan.

Namun, di tengah upaya sekelompok perajin dan pedagang tahu berjualan dengan cara yang jujur. Segelintir pedagang nakal nekat menggunakan zat pengawet dengan jumlah yang tak bisa dipertanggungjawabkan dengan berbagai macam alasan dikemukakan.

Seorang pedagang, sebut saja Eko namanya, bergegas menuju ke sebuah pabrik tahu di salah satu kota Jawa Tengah, ketika matahari baru terbit. Tentunya, ia bermaksud membeli tahu yang akan dijualnya lagi. Tak lama berselang, ia pun keluar-masuk kampung menawarkan tahu seraya berharap barang dagangannya ludes terjual.

Namun, dagangannya belum juga bertemu peruntungan meski matahari makin tinggi menyebabkan kulit terasa panas terbakar. Titik terang mulai nampak di sebuah perumahan saat sejumlah ibu-ibu membeli tahunya. Sayangnya, hasil penjualan kali ini tak menolong banyak. Buktinya, sisa penjualan tahu hari ini masih terlihat banyak. Ia pun memutuskan untuk membawa pulang sisa barang dagangannya ke rumah.

Saat itulah Eko menyempatkan diri mendatangi sebuah toko material guna membeli tawas, bahan kimia yang biasa digunakan untuk menjernihkan air. Selain itu, sang penjual tahu itu juga membeli bahan kimia pengawet, formalin dan boraks di pasar. Dua bahan kimia tersebut ternyata ia gunakan untuk mengawetkan tahu agar bisa kembali dijual keesokan harinya. Praktik nakal yang tentunya bisa membahayakan kesehatan manusia.

Setibanya di rumah, Eko pun melakukan aksinya membuang air tahu yang baunya sudah mulai terasa tidak enak. Setelah itu, tahu pun direndam dengan formalin selama 15 menit, gunanya agar makanan berbahan kedelai itu tetap awet. Sambil menunggu, ia pun menyiapkan tawas yang kemudian dicairkan di sebuah baskom. Tak ada perbandingan yang digunakan, tawas pun dituangkan ke tahu agar terlihat segar saat dijual esok hari. Ia mengaku tak tahu jika perbuatannya merugikan kesehatan konsumen, terlebih melanggar hukum.

Keesokan paginya, Eko langsung pergi berkeliling menjual tahu. Ia pun membidik pemilik warung makan yang tentunya tak mengetahui jika tahu yang dibelinya mengandung zat kimia tawas dan boraks. Tak sampai setengah jam berkeliling, barang dagangannya pun diserbu pembeli. Ia pun bisa pulang ke rumah lebih cepat.

Kepada tim Sigi SCTV, pemilik pabrik tahu Warsino memberikan kiat cara membedakan tahu murni dengan tahu yang telah tercampur zat kimia. Ia merinci tahu putih yang mengandung formalin teksturnya keras alias tidak lembek. Selain itu, baunya lebih menyengat lazimnya bau formalin dibandingkan tahu murni. Terlebih jika tahu yang diduga berbahan kimia tersebut berbau asam dan berlendir.

Kecurangan serupa dilakukan sejumlah pedagang makanan yang nakal. Seperti tukang batagor dan tukang siomay yang menggunakan tahu sebagai bahan dasarnya. Mereka pun meracik bumbu khusus. Selain berfungsi sebagai penyedap rasa, racikan khusus itu juga digunakan buat menyembunyikan rasa tawas pada tahu.

Padahal, sebenarnya tanpa berbuat curang pun masih ada cara yang bisa dilakukan agar tahu awet lebih lama secara alami. Sayangnya, sejumlah pedagang seperti Eko memilih jalan pintas. Perbuatan itu jelas dapat meresahkan para konsumen atau ibu rumah tangga yang biasa membeli tahu di pasar tradisional.

Tak ingin gegabah, tim Sigi SCTV pun melakukan uji laboratorium guna membuktikan praktik nakal dilakukan oleh sejumlah pedagang, Beberapa jenis tahu yang diduga mengandung bahan kimia berbahaya pun diambil sebagai contoh untuk memastikan kadar bahayanya bila dikonsumsi. Sampel pun dibawa ke laboratorium yang biasa menguji kandungan kimiawi dalam makanan.

Hasilnya sudah bisa diduga, Manajer Teknis Pengujian Balai Besar Industri Argo Mulhaquddin mengatakan sampel tahu yang dibeli dari sejumlah pedagang ternyata melebihi ambang batas aman sehingga sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Menurut dia, tubuh manusia punya keterbatasan untuk menerima kandungan zat kimia yang terkandung dalam makanan yang bisa berakibat fatal bagi kesehatan.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Semarang dokter Niken menyayangkan minimnya pengetahuan para pedagang tentang bahaya menggunakan bahan pengawet seperti tawas, boraks, dan benzoat. Menurut dia, perbuatan tersebut sangat merugikan konsumen. Jika pun terpaksa, seharusnya para pedagang menggunakan bahan pengawet yang diperbolehkan sesuai ketentuan kesehatan meskipun harganya cukup mahal.(ADI/ANS)


http://berita.liputan6.com/read/338870/kenali_tahu_berbahaya

Selasa, 21 Juni 2011

Jangan lupakan...


Indonesia yang ibukotanya Jakarta. ya iyalah, masa ya iyadong. kan mulan jamilah bukan mulan jamidong. (kata2 yang lagi IN di kalangan anak muda di Jakarta skarang)

ngomong2 soal Jakarta. disini nih, tempat ngumpulnya org2 dr daerah2 jadi kalo kerennya NewYorknya Indonesia. hehehe. banyak juga orang2 yg udah lupa diri dan gak inget sama kiri-kanannya. (liat kiri-kanan lo skrng juga) Paling banyak lagi org yg pngen dikenang jasa2nya.

Dan ternyata pernyataan diatas sama sekali tidak nyambung dengan isi dibawah ini, yang memaparkan beberapa profesi yg mewarnai Jakarta :

1. Guru

Setiap hari ngeliat diskolah. (yah, gatau kalo mahasiswa). 12 tahun dihajar, eh diajar beliau. (yah, gatau kalo akselerasi ato gak naik. ^^) tapi, gitu2 aja sikap kita sama mereka, gak peduli.

Padahal kita udah dikasi ilmu yang (gatau) bakal dipake di masa depan. wajar bgt kalo kita harus nginget jasa mereka.

coba aja bayangin, deh para2 ilmuwan yg berhasil pasti mereka terima kasihnya bgini :

"Terima kasih kepada Tuhan, Mamah, Papah, Saudara2ku, Teman2ku, Bibi sebelah rumah, Kucingku, dan semua orang yang membantu saya saat susah maupun mudah. Sekali lagi terima kasih"
(pulang dan membawa piagam)

MANA GURUNYA....masa bibi sebelah rumah?

gak inget lo pas masi TK makan belepotan, guru yang ngelapin. gak inget pas SD pipis dicelana, guru yang bersihin. pas SMP gak inget gw ada apaan pas SMP. pas SMA rambut lu panjang, guru yang motongin. gak inget lo.... Eh, ini pengalaman gw deng, mari kita berbagi pengalaman disini....

setidaknya kita, skrng harus berusaha menghargai guru kita yang tercinta. ^^

2. Tukang Sampah

Setiap kita liat mereka yang berkelut dengan sampah tiap hari, pasti kita merasa jijik. Padahal, sampah di rumah kita dia yang ambilin, dia yang ngebuangin juga. bayangin kalo gada mereka sampah2 dirumah lo skrng stinggi apa? jgn. jgn buat tempat ngubur harta.

Emang gile ini org, setiap hari bawa gerobak, kalo gak kantong. yang isinya sampah2 buangan kita. 1 lagi yang mesti dihargai, idungnya mannn.... kalo gw radius 10 m aja udah kecium, dia ampe 10 cm aja masi betah di tempatnya bekerja. gile. Menakjubkan emang ini orang satu.


3. Tukang Sapu

Bayangkan kalo gada tukang sapu di Jakarta. Beuh, setiap lo abis maling belimbing di kantor si Robert pasti ketauan. ya iyalah, jejak lo masi berbekas di debu. makanya, kalo kabur ke kolam renang aja. soalnya, debunya udah nutupin tuh kolam renang. oke

gak bosen2 ni org nyapu jalanan tiap hari, padahal udah tau pasti bakal kotor lagi? kalo bosen ya gak dibayar pemerintah lah. (nanya sndiri dan dijawab sndiri adalah ciri2 org tidak waras. seperti anda yg sedang membaca. ampun bang bos)

4. Pedagang Keliling

Nah ini nih, ini dia, paling ditunggu2, akhirnya, si pedagang keliling, segala apapun bentuknya ni pedagang pasti kita merasa bersyukur deh.

Bayangin lo pgn makan mie, eh dikulkas adanya spaghetti. trus tiba2 lo kram dirumah, eh gada org buat minta tolong. bayangin si abang mie keliling masuk ke rumah lo. trus nanya

"Mau mie de?"

lo merasa beruntung karena si abang lewat, dan lo pun kembali segar dan segera melanjutkan aktivitas seperti biasa. Terima Kasih ya abang keliling.

Cerita diatas berlaku juga buat tukang bakso, nasi goreng, mie ayam, dan yang mirip2. tapi, jgn samakan sol sepatu, jahit baju, foto polaroid, dan yang beda2.

5. Tukang bangunan

biasa juga dipanggil kuli. si tukang satu ini juga gak kalah kerennya loh, kalo gak ada tukang2 ini, tinggal dimana kita. dibawah tanah? apa di goa?

Para mandor yang kerjanya nyuruh2 juga, kalo gada kuli2 gabisa apa2. cuma teriak2 tp gada yg kerja. yah itu mah namanya bukan mandor, tp emang gila.

Dan hebatnya lagi para kuli ini, bisa bekerja hebat cuma denger perintah majikan. majikan maunya ini? kuli pun langusng menyanggupi.

gak smua kuli gitu juga sih, mungkin ada kuli yang jenius ada yg terbelakang. (ya Allah, kalo jenius ngapain juga jadi kuli, mending jadi presiden. mungkin presiden yg hobi nguli)

6. Kenek

Temennya supir bus dalam mengarungi daerah2 di Jakarta ini, emang paling sangar. kerjaanya mintain duit mulu tiap ada yg naik.

Tapi, gini2 kerjaan kenek penting juga loh. Coba misalnya si supir bus ini, gada temennya yg minta2in duit ke penumpang. bisa2 lo yg disuruh nyetir tuh bus, sama si supir.

Ato gak, misalnya lu nanya jurusan busnya kmana sama penumpang lainnya, ntar dikira lo mau ngehipnotis lagi, bahaya kan kalo gak ada kenek tercinta yang melayani asam-manis kehidupan di Jakarta. Kenek juga, ngeramein suasana di saat kita smua sedang hening sesaat. Ia suka teriak2 nama tempat sampe serek. Ya itulah si abang kenek.

7. Satpam

Security nama kerennya. kalo diliat sekilas sih nggak berguna juga sih. cuma berdiri aja, trus jadi tempat org nanya jalan kalo kesasar. bantu org menata mobilnya kalo aja kesusahan (alias tukang parkir)

Lagian para satpam bekerja dgn stulus hati kok. liat aja, mereka gak pernah malem2 lagi jaga trus nyelinap ke dalam nyolongin duit2 dan arsip2 penting milik perusahaan. dan bsoknya mereka bilang

"gatau pak yg nyuri bukan saya kok. tapi, si Udin tuh"

Trus gmana kita bisa nabung di bank2 terpercaya bila para satpamnya tidak terpercaya. makanya percayakan sama satpam daripada sama yang bajunya coklat dan kerjaanya 'nagihin' duit sambil mencari kesalahan pengendara bermotor.

Pilih satpam untuk calon berikutnya. dijamin nyaman, tentram, dan terkendali.

8. Pedagang DVD

Gw sndiri bingung kenapa orang2 ini gw masukin kesini. padahal mereka dengan seenaknya menyalahgunakan hak cipta, dengan memperbanyak kopian untuk dijual. mereka bisa saja dituntut sewaktu-waktu oleh pihak yang berwajib.

Tapi, tetep aja dengan adanya org2 seperti mereka kita bisa menikmati tontonan dengan harga yg lebih murah. kalo beli yg asli-nya harganya bisa mencapai ratus ribuan. tapi, kalo di kios2 terdekat paling mahal juga10-ribuan. Yah, tapi sekali2 beli juga dong yg asli skalian membantu negara mengurangi devisa kepada negara lain.

Yah, sgitu dulu aja deh. orang yg dapat mewarnai kehidupan gw di Jakarta. kalo gada org2 itu, Jakarta juga nampaknya kurang menarik. Berlebihan? memang. Namun, ingat bahwa hal yg berlebihan akan membawa kita ke kurangan. Gajelas bgt ni kalimat gw sndiri ngetiknya udah bingung mau nulis paan. yaudah deh sgini dulu aja...




http://oranglaper.blogspot.com/2008/06/jangan-lupakan.html

Putu Mayang

PUTU mayang menjadi camilan favorit si buah hati. Anda tidak perlu repot membelinya di toko, kini saatnya bereksperimen sendiri di rumah.
Bahan:
500 ml air
500 gram tepung beras
250 gram tepung kanji
250 ml santan kental

Kinca:
500 ml santan kental
3 lembar daun pandan
250 gram gula merah
1 sdm tepung beras
100 gram gula pasir
Garam secukupnya

Cara Membuat:

- Campur tepung beras dan tepung kanji. Aduk rata. Tuang santan. Panaskan dan aduk sampai kental. Angkat. Cetak adonan dengan alat pembuat putu mayang. Kukus sampai matang.

- Kinca: didihkan santan kental dengan daun pandan. Masukkan gula merah, gula pasir, dan garam. Kentalkan dengan larutan tepung ketan. Angkat, biarkan dingin.

- Sajikan putu mayang bersama kica/saus gula merah.

Resep ini disarikan dari buku “Kitab Masakan Kumpulan Resep Sepanjang Masa” karya Tim Dapur Demedia.
(tty)


http://www.okefood.com/read/2011/02/23/305/427963/putu-mayang

Minggu, 19 Juni 2011

Kue Sagu Bertabur Wijen

MEMBELI camilan ke toko kue memang sah-sah saja bagi Anda yang sibuk bekerja. Tapi kini tak ada salahnya menghabiskan akhir pekan dengan mempraktikkan resep makanan ini.
Bahan:
400 gr tepung kanji, sangrai
80 gr mentega
80 gr margarin
200 gr gula halus
1 btr telur
6 sdm susu evaporated
1 sdm moka pasta
30 gr biji wijen

Cara Membuat:
- Kocok mentega, margarin, dan gula halus sampai gula larut. Tambahkan telur, kocok rata. Masukkan tepung kanji, susu evaporated, dan moka pasta, aduk rata.

- Masukkan adonan ke dalam plastik segitiga, lalu semprotkan ke atas loyang yang sudah diolesi margarin. Taburi permukaannya dengan wijen. Panggang kue dalam oven bersuhu 160 derajat Celsius selama 20 menit. Keluarkan, biarkan sampai dingin. Simpan kue dalam stoples.

Resep ini disarikan dari buku “Kitab Masakan Kumpulan Resep Sepanjang Masa” dari Tim Dapur Demedia.
(tty)

http://www.okefood.com/read/2011/05/09/305/455067/kue-sagu-bertabur-wijen

Sabtu, 18 Juni 2011

Kupi Basusu

HARI Ahad itu Palui wan kakawalannya tulakan maunjun karna di guntung papuyu tahabar sudah musim iwak. Biasanya bubuhannya basangu nasi, hintalu wan wadai tapi hari itu kada babawaan napa-napa karna sudah tahu bahwa di parjalanan banyak warung.

“Aku jara mambawa nasi bungkus Bus ai karna rancak basi lalu kada tamakani,” ujar Palui.

“Hiih, labih baik mambawa duit Lui ai,” ujar Garbus.

“Biar kada baduit kawa haja bahutang,” ujar Palui.

“Ikam di mana-mana kawa haja bahutang karna banyak kapatuhan,” ujar Palui.

“Biar banyak kapatuhan tapi hutang tatap hutang dan harus dibayari,” ujar Palui.

“Kalu kaya itu Lui ai, kita maunjun satangah hari haja, tangah hari bulikan supaya makan di rumah haja,” ujar Garbus.

Lalu siang itu, walaupun hanya pakulih babarapa ikung iwak haruan, Palui wan Garbus bulikan. Wayah dalam parjalanan bubuhannya singgah di warung hanyar, karna dilihatnya nang bajualan pina lamak mungkal. Lalu imbah singgah bubuhannya mamasan nginuman.

“Aku pasan teh lapas haja,” ujar Garbus.

“Kanapa maka teh lapas Bus, apakah ikam kancing manis?” ujar Palui batakun.

“Jangan galu Lui ai, basusunyi haja, aku ada basangu gula saurang,” ujar Garbus sambil mambuka bungkusan plastiknya.

“Ikam pasan nginuman napa Lui? ujar Garbus manakuni pulang.

“Aku ulahakan kupi,” ujar Palui.

“Kupi manis atawa kupi pahit nang kada bagula?” ujar panjaga warung.

“Kanapa maka manakuni kupi pahit kada bagula?” ujar Palui balik batakun.

“Tadi ulun malihat kawan sampiyan itu mamasan teh lapas, eeee... sakalinya ulun lihat sidin mambawa gula saurang,” ujar panjaga warung sambil lihum.

“Ulahakan kupi manis basusu,” ujar Palui.

“Nah, ulun katuju banar pasanan sampiyan itu karna mamayuakan warung kami,” ujar Aluh panjaga warung.

“Susunya merek napa Luh?” ujar Palui batakun.

“Susuku, susu bandira jua,” ujar Aluh lihum mahuhulut.

“Kalu kaya itu, ulahakan kupi bagula lalu haruakan,” ujar Palui manyuruh.

“Lalu susunya dicampur dimana Ka?” ujar Aluh.

“Gampang haja, kupinya andak di hadapanku, dan susunya biar kujapai-japai haja,” ujar Palui manyirit si Aluh nang pina lamak mungkal dadanya.

“Wah, waahhh... sampiyan lanji, sampiyan lanji,” ujar Aluh manangkis.

“Lanji wan kidas-kidasnya matan dahulunya jua,” ujar Garbus malawanakan.

“Sahibar maunjun Bus ai, bila mamatuk syukur dan bila kada mamatuk syukur jua,” ujar Palui kada hakun kalah.


http://zack-gothic.blogspot.com/2010_04_13_archive.html

Rabu, 15 Juni 2011

Kisah Badoa Saurang-saurang

Bulan puasa nangini Palui rajin banar tulak ka langgar parak rumah. Kabiasaan paling magrib wan isya inya bajamaah, tapi limbah bulan ramadhan, juhur asar sampai subuh inya ka langgar jua.

“Himung aku malihat ikam salawas puasaan ini Lui ai,” ujar Garbus wayah tulakan ka langgar.

“Bulan puasa haja pang Lui ai pina batobat. Imbah tuntung puasa tabulik pulang ka asal,” ujar Tulamak maurahakan.

“Tabaik aku kalu ada jua batobat. Daripada bubuhan ikam kada sing tobatan,” ujar Palui langsung bagagas masuk ka langgar. Rupanya di langgar kadada urangnya kacuali bubuhannya batigaan haja.

“Biar aku nang bang nah,” ujar Tulamak langsung bang juhur. Tuntung manyunat, tatap haja nang ada buhannya batigaan haja ada di langgar.

“Ayu ai qamat mak, sambil manunggu nang lain,” ujar Palui manyuruh Tulamak qamat. Lawas limbah qamat kadada jua jamaah lain nang datang. Bingung buhannya batunjulan jadi imam.

“Ikam haja Lui jadi imam, aku sudah bang tadi,” ujar Tulamak manyuruh Palui.

“Ikam Bus, aku pina kada nyaman awak. Suaraku jua parau, ehm..ehm…,” ujar Palui baalasan.

“Aku kada fasih bacaan Lui ai, nang tafasih tu ikam,” ujar Garbus jua baalasan. Mau kada mau Palui akhirnya hakun jadi imam sambahyang juhur. Tuntung bajuhur, Palui mamimpin wirid nang handap. Pas takana handak bado’a Palui kaingatan kabiasaan imam nang manyuruh ma’mumnya di balakang mamimpin doa. langsung Palui manapuk lantai manyuruh Tulamak mamimpin doa.

“Pimpin doa mak,” ujar Palui manyilahakan.

“Ikam haja Lui ai,” ujar Tulamak mambulikakan ka Palui. Palui kada habis akal, lalu manapak ka arah Garbus. “Baca doa Bus… nang handap haja doa salamat wan tolak bala,” ujar Palui. Garbus marasa kada hapal jua lalu mambulikakan ka Palui pulang.

“Ikam haja Lui ai, nang handap gin aku kada hapal, apalagi nang panjang,” ujar Garbus manyilahakan Palui. Habis akal Palui limbah kakawalannya sama pada kada hapal doa. “Mun kaya itu, kita badoa surangan-surangan haja, aku gen kabujuran kada hapal jua, lawan balum paham mangganti nang jamak lawan sorangan, takutan kaena tasalah,” ujar Palui akhirnya mambawai badoa saurang-saurangan.

“Amun kawa ini jadi rahasia kita batiga haja, bila mambongkar, sama lawan manyupani kita barataan, kita badoa batunjulan,” ujar Palui limbah bulikan.

“Akur Lui ai, aku gen supan mun katahuan urang kampung kita badoa saurangan-saurangan,” ujar Tulamak wan Garbus paham.



http://banjarmasinbungas.com/2009/09/kisah-badoa-saurang-saurang/